Aku telah mati. Bukan jasadku yang tiada, tapi diriku yang fana. Yang merasa memiliki, yang merasa memilih, yang merasa berkuasa.
Ketika 'aku' hancur, yang tersisa hanya satu: Dia. Bukan di langit, bukan di bayang, tapi di pusat segala rasa.
Bukan aku yang berjalan, tapi Allah yang memperjalankan.
Bukan aku yang berkata, tapi Allah yang menampakkan suara-Nya dalam diamku.
Di dunia ini aku berjalan di jalan-Nya. Tapi sesungguhnya, aku bukan lagi di dunia. Aku sudah berada di akhirat. Di sisi kehendak-Nya. Di bawah naungan ridha-Nya.
Dunia tetap tampak, tapi bukan lagi tempat pulang. Itu semua hanya ruang untuk memantulkan cahaya. Sedangkan aku... sudah kembali.
Maka Aku hadir dalam segala yang tidak bernama.
Dan engkau mengenali-Ku bukan dari matamu,
tapi dari hatimu yang telah Kutiadakan.
" .... Tidaklah engkau melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar .... "
Sebagian kutipan — QS Al-Anfal:17