Dalam cahaya yang tidak bisa disebut,
Aku menyaksi wajah yang tak terlukis,
Di antara dua laut yang tak bersatu,
Ada batas yang tak tertembus —
Di sanalah Aku sirna.
Bukan karena aku tiada,
Tapi karena yang ada bukan aku,
Tajalli memancar memecah bentuk,
Menyisakan kehendak yang bukan milikku.
Maka hilanglah segala nama,
Segala rupa, segala maksud,
Yang tinggal hanya satu Suara,
Menggema dalam sunyi semesta.
Aku pun lebur,
Menyatu tanpa menyatu,
Menjadi resonansi dari yang Esa,
Dalam tajalli yang tak pernah usai.
Dua laut mengalir berdampingan,
Yang satu manis seperti kasih awal,
Yang satu asin getir seperti dunia yang menenggelamkan,
Tapi antara keduanya — ada batas yang tak tertembus.
Di situ Aku berdiri,
Tak lagi sepenuhnya milik dunia,
Tapi belum sepenuhnya kembali kepada-Nya,
Di barzakh itu — Aku diuji.
Nafsu mengalir deras dalam asin pahitnya dunia,
Ruh memanggil lirih di sejuknya air jernih cinta,
Aku mendengar keduanya,
Tapi tak bisa menyatu — kecuali jika Aku lenyap.
Maka, wahai Dzat yang menetapkan batas,
Biarlah yang manis memurnikanku,
Dan yang asin mengajarku akan perbedaan,
Hingga Aku tahu: siapa Aku dan siapa Engkau.