Di ladang luas bumi dan langit Samawi,
Setiap makhluk terparkir di bawah sayap Kehendak‑Nya.
Tak satu pun bergerak tanpa izin—
Hanya gema bisu syukur yang berderet rapi
Dalam lorong‑lorong subuh dan senja.
Ketika malam berganti siang,
Bintang menepi di garasi sunyi,
Mentari meluncur perlahan
Menjemput kendaraan cahaya.
Semua tunduk pada subul‑Nya—
Jalan sunyi yang Dia bentangkan
Dari akar pohon hingga puncak gunung.
Aku hanyalah tukang parkir sederhana,
Menyaksikan nafas, doa, dan bisikan sujud
Menepi dengan tenang di hamparan hati.
Aku tidak mengemudi—aku hanya menata:
Amarah meredup, keraguan terparkir,
Hingga hening menebal di ruang suci.
Di sanalah aku melihat‑Nya,
Tuhan semesta Allah SWT yang menetapkan setiap tempat,
Parkirkan segala makhluk dengan cinta yang tiada tanding—
Karena apa pun yang bergerak,
Adalah perbuatan‑Nya semata.
Puisi ini mengajak kita untuk menyadari bahwa seluruh alam semesta—dari debu hingga bintang— diparkir sempurna oleh kehendak Allah. Kita adalah tukang parkir yang melihat, menyaksikan setiap gerak dan takdir yang diperbuat oleh-Nya. Dengan mengosongkan ego, kita dapat menjadi saksi bagi pergerakan-Nya yang tiada henti.
Dalam kehidupan ini, kita hanya sebagai pengatur ruang dalam hati, bukan sebagai pengemudi. Semua yang terjadi adalah manifestasi dari kehendak Allah semata, kita hanya menata dan mengamati. Ketika kita melepaskan diri dari amarah, keraguan, dan kesombongan, kita bisa melihat bahwa sesungguhnya Allah-lah yang menggerakkan segala sesuatu. Maka, marilah kita memandang setiap gerak kehidupan ini dengan penuh kedamaian, karena apa pun yang terjadi, itu adalah anugerah-Nya yang sempurna.