Pencari kebenaran adalah musyafir.
Ia menelusuri asal mula keberadaannya.
Harus tekun dan tetap lurus
di antara lembah takwa dan jurang maksiat.
Namun sesekali — atas izin Tajalli-Nya
Ia menampakkan dirinya,
Bukan sebagai seorang musyafir.
Ia tampakkan dalam rupa taat…
atau bahkan maksiat.
Itu bukan nyata, tapi kamuflase.
Hanya strategi untuk merayap…
agar tak terlihat oleh ujian makhluk.
Seperti pesawat siluman,
menembus radar dunia fana.
Ia tak pernah merasa sampai…
karena yang sampai sejati
adalah kematian seutuhnya.
Selama ruh masih terikat tubuh,
selama dunia masih menyapa mata,
selama hati masih belajar mencintai…
maka ia belum kembali.
Yang merasa sampai, telah sesat.
Yang mengaku selesai, telah berhenti.
Maka para arifin memilih sunyi.
Cahaya mereka disembunyikan
di balik kesederhanaan.
Berjalan tunduk,
agar tak ada yang menunjuk.
Sebab ruh yang benar-benar sampai
hanya akan kembali ke PangkuanNya
sebagai pos terakhir pengembaraan
Yaitu ........
Kepada Yang Maha Awal dan Maha Akhir