Pada mulanya, manusia kebingungan...
Segala petuah, segala pengetahuan, segala perintah dan segala apapun yang bergemuruh di dalam diri.
Di situ, banyak penguasa berdiri: hasrat, akal, ego, rasa takut, dan banyak lainnya.
Mereka bersuara, mereka menuntut taat. Namun, hanya satu sejatinya Penguasa.
Ia tak berada di tengah keramaian. Ia tersembunyi di pojok sunyi, di tempat yang sulit disangka.
Lalu dimulailah uzla, sebuah perjalanan sunyi untuk mengusir selainNya. Dengan kesadaran batin, satu demi satu suara palsu dipadamkan, hingga tinggal satu cahaya yang tetap menyala.
Uzla bukan lari dari dunia, tapi lari menujuNya. Menjauh dari keramaian agar hati tak dipenuhi tamu yang bukan Dia.
Namun uzla belum selesai. Ia hanya pembuka jalan. Sebab setelah pengusiran, datanglah saat penetapan.
Inilah kholwat — ketika hati menjadi singgasanaNya, dan ruh duduk dalam sujud yang tak bersuara.
Tapi musuh tak pernah berhenti. Mereka datang dalam bentuk yang lebih halus, lebih samar, lebih suci; berbalut kebaikan, berselimutkan cahaya.
Mereka masuk lewat rasa ingin tahu, lewat semangat berdakwah, lewat pujian yang menyanjung amal, dan bisikan-bisikan mulia yang ternyata menggeserNya perlahan.
Maka ruh itu tak lagi bertindak. Ia hanya duduk. Diam. Berjaga dalam sunyi, menyerahkan seluruh pertahanan kepada Sang Raja yang kini bertahta di dalam qalbu.
Sebab jika diri kembali berdiri, singgasanaNya akan terguling.