Tajalli di Tengah Malam: Hikmah dari Seekor Semut
pada malam sunyi, aku terbangun dalam keadaan tajalli, kesadaran penuh akan kehadiran Allah. aku mandi, namun terasa bukan sekadar membasuh tubuh — jiwa ini telah dibasuh oleh cahaya yang tak terlihat, namun nyata.
di dinding kamar mandi kulihat seekor semut kecil. ia berusaha memanjat sejauh 20 cm, namun jatuh tiga kali. biasanya semut sehat begitu cekatan memanjat, tapi kali ini terlihat lemah dan tak berdaya. hatiku terhenyak. ini bukan semut biasa. ini ayat.
قُلِ ٱللَّهُمَّ مَـٰلِكَ ٱلْمُلْكِ تُؤْتِى ٱلْمُلْكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلْمُلْكَ مِمَّن تَشَآءُ، وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُ ۖ، بِيَدِكَ ٱلْخَيْرُ ۖ، إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌ
katakanlah (muhammad), “wahai tuhan yang mempunyai kerajaan, engkau berikan kerajaan kepada siapa yang engkau kehendaki dan engkau cabut kerajaan dari siapa yang engkau kehendaki. engkau muliakan siapa yang engkau kehendaki dan engkau hinakan siapa yang engkau kehendaki. di tangan-mu segala kebajikan. sungguh, engkau mahakuasa atas segala sesuatu.” (qs. ali 'imran: 26)
aku ulurkan tanganku ke bawah. semut itu tak lagi naik ke dinding, ia justru naik ke bahu kananku. biasanya aku merasakan gerak halusnya, namun kini tak terasa apa pun — seolah semut itu tak berbobot. apakah ini semut, atau hanya isyarat?
وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا
tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya. (qs. al-an’am: 59)
وَمَا مِن دَابَّةٍۢ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا
dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan allah-lah yang memberi rezekinya. (qs. hud: 6)
aku diam, tak mengguyur air lagi. tubuh ini sudah cukup. yang tersisa hanyalah kesadaran. aku menghadap cermin, namun semut itu sudah tidak ada. yang kutemui bukan lagi wajahku. aku melihat, tapi yang kulihat bukan aku.
فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ ٱللَّهِ ۚ
ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah allah. (qs. al-baqarah: 115)
كُلُّ شَىْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُۥ ۚ
segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-nya. (qs. al-qashash: 88)
tak ada rasa takut, tak ada ingin tahu ke mana semut itu pergi. karena aku sadar, dia telah menjadi bagian dari pesan-nya.
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ
sesungguhnya allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (qs. al-baqarah: 222)
penutup renungan
semut itu kecil, tapi ia membawa makna yang besar.
bukan tentang dirinya,
tapi tentang kehadiran allah di setiap yang lemah,
setiap yang tunduk,
dan setiap detik hening yang penuh cahaya.
© Ponpes Miftakhul Ulum Jaya Baru
Yayasan Ilmu Tauhid Hakekat Makrifat
Jl. Perjuangan, Dusun Glonggongan, Desa Sumbertebu, Kecamatan Bangsal,
Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia.
Kode Pos: 61381