Dahulu aku berlindung di balik atap,
menjauh dari panas kehidupan,
menanti sejuk di balik bayang.
Tapi cahaya menembus segala.
Bukan dari atas, bukan dari samping,
namun dari dada yang ditingkahi getar lembut,
yang tak bisa dijelaskan oleh kata.
Aku pun tahu —
bukan atap yang selama ini meneduhkan,
tapi nur yang hadir dari-Nya.
Ketika atap itu retak,
cahaya-Nya justru merasuk lebih dalam.
Kini aku berdiri di bawah langit terbuka,
tidak berlindung dari cahaya,
karena aku telah menjadi kaca
yang tak lagi takut pecah.
۞ اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْۤءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌۙ ٣٥
لَقَدْ كُنتَ فِي غَفْلَةٍۢ مِّنْ هَـٰذَا فَكَشَفْنَا عَنكَ غِطَآءَكَ فَبَصَرُكَ ٱلْيَوْمَ حَدِيدٌ