Jiwa itu lelah...
Ia menatap langit tapi tak tahu jalan,
Berlari jauh dari Rumah asal,
Terikat hasrat, tersesat dalam cahaya palsu dunia.
Lalu datang Roh Kudus...
Hening, namun kuat.
Ia tak membentak,
Tapi memanggil dengan cahaya yang dahulu ia kenal.
"Kembalilah, wahai jiwa...
Bukan untuk musnah,
Tapi untuk sujud dalam cinta."
Ia peluk jiwa dengan lembut,
Bukan untuk memanjakan,
Tapi untuk membunuh sifat-sifat yang memisahkannya dari Allah.
Dibunuhnya ego,
Ditelanjanginya kehendak,
Dikikisnya rasa memiliki.
Dan jiwa...
Jiwa pun wafat dalam hidup.
Fana dalam ruh,
Hidup kembali dalam Nur.
Di sanalah ia bertemu Allah,
Bukan dalam bentuk,
Bukan dalam arah,
Tapi dalam kesadaran:
“Aku tidak pernah jauh. Aku hanya lupa.”