📖 Beranda
Daftar Isi ⌄
- 1Pembuka
- 2Sekapur Sirih
- 2.1Peringatan Allah SWT kepada Manusia
- 2.2Pandangan Tasawuf
- 3Islam Kaffah
- 3.1Perjalanan Hamba
- 3.2Pentingnya Cahaya Makrifat
- 4Proses Menuju Islam Kaffah
- 4.1Illustrasi Perjalanan Hamba
- 4.1.11. Bahtera dan Awaknya
- 4.1.22. Ilmu Hanyalah Peta, Allah-lah Penggeraknya
- 4.1.33. Bahaya dan Pertolongan
- 4.1.44. Mutiara Makrifat
- 4.2Video Pengajian
- 4.3Ayat Al-Quran tentang Kemakrifatan
Daftar Isi
- 1Pembuka
- 2Sekapur Sirih
- 2.1Peringatan Allah SWT kepada Manusia
- 2.2Pandangan Tasawuf
- 3Islam Kaffah
- 3.1Perjalanan Hamba
- 3.2Pentingnya Cahaya Makrifat
- 4Proses Menuju Islam Kaffah
- 4.1Illustrasi Perjalanan Hamba
- 4.1.11. Bahtera dan Awaknya
- 4.1.22. Ilmu Hanyalah Peta, Allah-lah Penggeraknya
- 4.1.33. Bahaya dan Pertolongan
- 4.1.44. Mutiara Makrifat
- 4.2Video Pengajian
- 4.3Ayat Al-Quran tentang Kemakrifatan
Kami mengucapkan Selamat Datang di Situs Pondok Pesantren Miftakhul Ulum Jaya Baru. Kegiatan kami secara khusus memberikan Bimbingan Ilmu Tasawuf berupa kegiatan Pengajian Ilmu Tauhid — Hakikat Makrifat. Kegiatan Bimbingan ini disampaikan dilingkungan Ponpes Jaya Baru serta disampaikan pula secara terbuka ditengah-tengan Ummat Islam (khususnya), atas dasar permintaan Masyarakat.
Bimbingan ini kami selenggarakan agar Ummat Islam — khususnya, dapat merevolusi Iman nya dengan Tauhid yang Murni — دِينُ الْقَيِّمَةِ — sehingga Ruhani selalu senantiasa hanya meng-Esa-kan Allah SWT, sesuai dengan Ajaran yang disampaikan oleh Rosulullah — Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Ajaran Tauhid yang Murni ini, telah ribuan tahun tidak disampaikan secara terang-terangan dan terbuka kepada Ummat Islam agar Ruhani Bertauhid semata hanya meng-Esa-kan Allah SWT – Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al-Quran Surah Al-Anbiya'(21:108)
Meneladani Rasulullah ﷺ dimulai dari keseharian: menjaga lisan, menunaikan amanah, bersabar, dan memperlakukan sesama dengan kasih sayang. Mari menyimak kajian ini sebagai pengingat untuk memperbaiki diri dan menumbuhkan kecintaan kepada beliau.Menghidupkan Akhlak Rosulullah dalam keseharian
Dunia yang pada hakikatnya hanyalah tempat singgah dan beribadah, namun kenyataannya — pada umumnya kebiasaan Manusia selalu berpaling dan berubah dari tujuan utamanya menjadi Nafsu menguasai Hati. Wujudnya adalah Kesenangan Dunia berupa Harta, kedudukan, kehormatan, popularitas, kenyamanan, dan kesenangan lahiriah dapat menjadi hijab yang menutup pandangan Batin Manusia dari Hakikat Kehidupannya. Hal itu dikarenakan Hati telah terjerat kepada Kesenangan Dunia ( مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ) yang dibisikkan Setan melalui Nafsu. Pada akhirnya akan berakibat, Hati menjadi mudah lalai, jiwa kehilangan kejernihan, dan manusia semakin jauh dari kesadaran bahwa dirinya diciptakan untuk menyembah, mengenal dan bertemu kembali kepada Allah SWT sebelum Kematian yang sesungguhnya tiba.
Dalam Surah Al-Hadid(57:20) dijelaskan bahwa:
Ayat ini memberikan peringatan yang sangat mendalam bahwa kehidupan dunia memiliki daya tarik yang kuat bagi nafsu manusia. Dunia dapat memperindah pandangan lahir, namun pada saat yang sama dapat melemahkan pandangan batin apabila hati tidak dibimbing oleh iman, ilmu, dan cahaya Makrifat. Manusia dapat merasa hidupnya berhasil secara lahiriah, tetapi sebenarnya batinnya miskin, gelisah, dan jauh dari Allah apabila seluruh orientasi hidupnya hanya tertuju kepada dunia.
Allah SWT juga mengingatkan dalam Surah At-Takasur(102:1-3)
Ayat ini menunjukkan bahwa kelalaian manusia sering kali bermula dari dorongan untuk memperbanyak, membanggakan, dan mengejar sesuatu yang bersifat sementara. Ketika hati telah dikuasai oleh keinginan terhadap kecintaan duniawi ( حُبُّ الدُّنْيَا ). Maka manusia akan menjadi mudah lupa kepada kematian, lupa kepada akhirat, dan lupa kepada tujuan hakiki penciptaannya. Inilah penyakit batin yang tidak mudah dapat disembuhkan hanya dengan ilmu lahiriah, akan tetapi memerlukan ilmu yang mampu menyentuh dan membersihkan kedalaman hati.
Video pengajian tentang kedalaman makrifat ini membahas bagaimana tabir ketergantungan kepada selain Allah mulai tersingkap sedikit demi sedikit. Hati yang sebelumnya mudah terpaut kepada dunia, manusia, sebab-sebab lahiriah, dan berbagai sandaran semu — perlahan dibimbing untuk melihat bahwa semua itu tidak memiliki kekuatan hakiki pada dirinya sendiri. Dunia tidak lagi menjadi tujuan utama, makhluk tidak lagi menjadi tempat bergantung yang mutlak, dan hati semakin dibawa untuk menyaksikan bahwa segala sesuatu selain Allah bersifat fana — dan hanya Allah yang kekal serta menjadi sandaran sejati.
Ilmu tasawuf mengajarkan bahwa kehidupan dunia bukan untuk ditinggalkan secara lahiriah, tetapi harus ditempatkan secara benar di dalam hati. Dunia boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai menguasai hati. Harta boleh dimiliki, tetapi jangan sampai menjadi sandaran utama. Jabatan boleh dijalankan, tetapi jangan sampai melahirkan kesombongan. Ilmu boleh dicapai, tetapi jangan sampai menjauhkan diri dari kerendahan hati di hadapan Allah SWT.
Dengan bimbingan tasawuf, seorang hamba diajak untuk kembali menyadari bahwa segala sesuatu selain Allah adalah fana. Kekuatan, kecerdasan, harta, kedudukan, dan seluruh kenikmatan dunia hanyalah titipan yang akan hilang pada waktunya — bukan karena kekuatannya sendiri, melainkan karena Allah yang menetapkan demikian. Yang kekal hanyalah Allah SWT. Kesadaran inilah yang lahir bukan dari usaha manusia semata, melainkan dari pertolongan Allah — yang perlahan-lahan membuka mata batin manusia, sehingga ia tidak lagi memandang kehidupan hanya dari sisi lahiriah, tetapi mulai melihat setiap peristiwa sebagai jalan untuk mengenal-Nya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-'Ankabut(29:64):
Ayat ini menjadi dasar penting dalam perjalanan ruhani. Seorang salik, yaitu orang yang menempuh jalan menuju Allah, harus memahami bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir. Dunia hanyalah medan ujian, tempat menanam amal, tempat membersihkan hati, dan tempat membuktikan ketulusan penghambaan kepada Allah SWT. Adapun kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat, yaitu kehidupan kembali kepada Allah dengan membawa hati yang bersih.
Oleh karena itu, pada masa ketika manusia semakin mudah terikat oleh dunia, ilmu tasawuf menjadi semakin penting. Ia hadir bukan sekadar sebagai pengetahuan, tetapi sebagai jalan penyucian diri. tasawuf membimbing manusia agar tidak berhenti pada ibadah lahiriah semata, tetapi juga memperhatikan keikhlasan, ketundukan, kekhusyukan, adab, cinta, takut, harap, tawakal, ridha, dan Makrifat kepada Allah SWT.
Melalui ilmu tasawuf, manusia diajak untuk membersihkan hati dari kesombongan, riya, ujub, hasad, cinta dunia yang berlebihan, dan ketergantungan kepada makhluk. Pada saat yang sama, hati dibina agar dipenuhi dengan dzikir, ikhlas, sabar, syukur, tawakal, mahabbah, dan kerinduan untuk bertemu Allah SWT. Dengan demikian, tasawuf menjadi jalan untuk menghidupkan kembali ruh agama di dalam diri manusia, sehingga Syariat tidak hanya dijalankan secara lahiriah, tetapi juga berbuah pada kejernihan batin dan kedekatan kepada Allah.
Maka, di tengah zaman yang penuh fitnah, kesibukan, dan keterikatan duniawi ini, manusia sangat membutuhkan bimbingan ilmu yang mampu mengembalikan arah hidupnya kepada Allah SWT. Ilmu tasawuf hadir untuk menuntun hati agar tidak terperangkap oleh kefanaan dunia, tetapi terus berjalan menuju hakikat penghambaan, penyucian jiwa, penguatan tauhid, dan cahaya Makrifat kepada Allah SWT.
Ilmu Tasawuf merupakan jalan pembinaan ruhani dalam Islam yang menekankan perbaikan batin, tanpa meninggalkan Syariat. Fokusnya bukan hanya pada amal lahiriah, tetapi juga pada keadaan hati, seperti ikhlas, sabar, tawakal, ridha, khauf, mahabbah, zuhud, dan muraqabah. Namun, seluruh pembinaan ruhani ini tidak boleh lepas dari akar utamanya, yaitu kalimat tauhid — لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ (La ilaha illallah) — tiada tuhan selain Allah. Sebab seluruh amal batin maupun lahiriah hanya bernilai jika berdiri di atas ketauhidan yang murni. Dengan bimbingan ini, bertujuan agar umat Islam khususnya menjadi Islam yang kaffah dengan Hakikat Makrifat sesuai yang Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah teladankan.
Dalam Surah Al-Baqarah(2:208) Allah SWT berfirman:
Dalam Ajaran Islam yang telah diteladankan oleh Rasulullah ﷺ, perjalanan seorang hamba menuju kedekatan dengan Allah SWT tidak hanya berhenti pada pelaksanaan ibadah secara Syariat saja, melainkan juga mencakup perjalanan batin yang mendalam. Para ulama tasawuf menjelaskan perjalanan ini melalui empat tahapan yang saling berkaitan, yaitu Syariat, Thoriqoh, Hakikat, dan Makrifat.
Yang menghendaki untuk memperjalankan HambanyaNya pada Hakikatnya adalah Allah SWT, bukan atas usaha Manusia itu sendiri.
Video pengajian tentang kedalaman Makrifat, tabir ketergantungan kepada selain Allah mulai tersingkap sedikit demi sedikit. Hati yang sebelumnya mudah terpaut kepada dunia,anusia, sebab-sebab lahiriah, dan berbagai sandaran semu, perlahan dibimbing untuk melihat bahwa semua itu tidak memiliki kekuatan hakiki dengan dirinya sendiri. Dunia tidak lagi menjadi tujuan utama, makhluk tidak lagi menjadi tempat bergantung yang mutlak, dan hati semakin dibawa untuk menyaksikan bahwa segala sesuatu selain Allah bersifat fana.
Pada maqam ini, seorang hamba memahami dengan kesadaran batin bahwa seluruh yang ada hanyalah makhluk yang bergantung, lemah, terbatas, dan akan sirna, sedangkan yang benar-benar kekal hanyalah Allah SWT. Cahaya Makrifat menjadikan hati tidak lagi tertipu oleh besarnya makhluk, tingginya kedudukan, banyaknya harta, atau kuatnya sebab-sebab duniawi. Semua itu tetap dipandang ada pada tempatnya, tetapi tidak lagi menguasai hati. Yang menguasai hati adalah kesadaran bahwa tidak ada daya dan kekuatan yang sejati kecuali dengan kehendak Allah.
Karena itu, cahaya Makrifat bukan sekadar tambahan pengetahuan, tetapi perubahan cara pandang batin. Seorang hamba mulai melihat kehidupan dengan ukuran yang berbeda. Ia tidak lagi menilai segala sesuatu hanya dari untung-rugi dunia, tetapi dari kedekatan atau kejauhan kepada Allah. Ia tidak lagi mudah silau oleh kenikmatan lahiriah, karena hatinya mulai mengenal bahwa seluruh kenikmatan dunia hanyalah sementara. Sebaliknya, ia mulai merasakan bahwa yang paling berharga adalah cahaya hidayah, kejernihan hati, dan peluang untuk semakin dekat kepada Allah SWT.
Ketika cahaya Makrifat mulai hidup, ketergantungan hati kepada makhluk semakin berkurang. Bukan berarti seorang hamba meninggalkan ikhtiar, menolak sebab, atau memutus hubungan dengan sesama, tetapi ia menempatkan semuanya secara benar. Ia tetap berikhtiar, namun tidak menyandarkan hati kepada ikhtiarnya. Ia tetap berhubungan dengan manusia, namun tidak menggantungkan keselamatan batinnya kepada manusia. Ia tetap hidup di dunia, namun tidak menjadikan dunia sebagai kiblat cintanya.
Inilah pentingnya cahaya Makrifat, yaitu membimbing hati dari ketergantungan kepada yang fana menuju ketundukan kepada Yang Maha Kekal. Dengan cahaya ini, seorang hamba belajar bahwa segala sesuatu datang dari Allah, berjalan dengan izin Allah, dan akan kembali kepada Allah. Semakin kuat cahaya Makrifat di dalam hati, semakin ringan dunia di pandangannya, semakin kecil makhluk dalam ketergantungannya, dan semakin besar kerinduannya untuk hidup dalam ridha serta perjumpaan dengan Allah SWT.
Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ar-Rahman(55:26-27):
Juga dalam Surah Al-Qasas(28:88):
Karena itu, puncak Makrifat bukanlah kebanggaan ruhani, melainkan kehancuran ego di hadapan kebesaran Allah, lalu lahirnya kehambaan yang murni. Semakin seorang hamba Makrifat kepada Allah, semakin ia tunduk, semakin ia fakir di hadapan-Nya, semakin ia merasa kecil, dan semakin ia melihat bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah semata. Dari sinilah lahir adab, khusyuk, ikhlas, sabar, ridha, tawakal, dan cinta yang tulus kepada Allah SWT. Maka Makrifat bukan sekadar pengetahuan tentang Tuhan, tetapi keadaan hati yang disinari penyaksian tauhid, hingga hidup sepenuhnya diarahkan untuk Allah, dari Allah, dan kembali kepada Allah.
Para ulama sering menggambarkan perjalanan ini sebagai Proses perjalanan pencarian mutiara di lautan dengan sebuah perumpamaan:
Tahapan Pembelajaran
Namun perlu dipahami, tahapan pembelajaran dari syariat menuju makrifat — beserta seluruh urutan yang diajarkan dalam ilmu tasawuf — hanyalah sebatas ilmu. Ia adalah peta yang membantu seorang salik memahami perjalanan, tetapi bukan penentu mutlak. Allah-lah yang berkehendak — Dia bisa meletakkan seorang salik di tahap mana saja, dengan urutan yang Dia kehendaki, bahkan kepada orang yang Dia pilih secara khusus. Sebab pertolongan Allah tidak terikat pada urutan ilmu manusia, melainkan pada hikmah dan kehendak-Nya. Ilmu hanyalah kendaraan; Allah adalah yang menggerakkannya.
Secara illustrasi dapat digambarkan sebagai berikut:
Bahtera Menuju Makrifat
Ilustrasi di atas menggambarkan perjalanan seorang hamba menuju Allah SWT sebagai sebuah pelayaran. Untuk sampai ke dasar laut yang paling dalam — tempat Mutiara Makrifat berada — bahtera harus melewati Lautan Tarekat, menembus permukaan, dan menyelam ke Kedalaman Hakikat.
Namun, siapakah yang menggerakkan bahtera ini ?
- Syariat adalah lambung dan geladak bahtera. Ia adalah wadah yang menjaga tetap mengapung; tanpa syariat, perjalanan akan tenggelam.
- Tarekat adalah layar yang mengarahkan lambung kapal melewati lautan.
- Hakikat adalah tempat sang salik menyelam untuk menemukan kedalaman makna.
- Mursyid adalah nakhoda yang tahu arah.
- Khadim dan Pengurus adalah kru yang bekerja di balik layar.
Peta perjalanan (Syariat → Tarekat → Hakikat → Makrifat) hanyalah sebatas ilmu. Ia adalah alat bantu. Seperti halnya angin yang bertiup (Himmah Ruhani), Allah SWT-lah yang berkehendak kapan dan di mana bahtera itu berlayar.
Seorang salik bisa saja sudah bertahun-tahun berlayar di atas permukaan (Tarekat), namun Allah berkehendak menenggelamkannya langsung ke dasar (Makrifat) di detik pertama ia menyerahkan hatinya. Sebaliknya, ada yang berlayar pelan melewati setiap tahapan. Terserah Allah.
Di atas bahtera, ada Al-Qur'an dan Sunnah yang menjadi kompas mutlak. Kita tidak boleh melenceng dari keduanya. Namun di luar bahtera, ada Lautan Tarekat yang luas — penuh gelombang ujian dan tipu daya dunia. Manusia tidak punya daya untuk mendayung dan melawan gelombang itu dengan kekuatannya sendiri.
Segala usaha, arah layar, dan tiupan angin, semuanya bergerak karena pertolongan Allah. Manusia hanyalah awak kapal yang berkewajiban berusaha (menaiki bahtera, mengikuti nakhoda, memegang kompas), tetapi yang benar-benar membawa kapal itu sampai ke dasar mutiara adalah Allah SWT.
Mutiara tidak ditemukan di permukaan. Ia hanya bisa dipetik oleh orang yang bersedia tenggelam — melepaskan keterikatan pada dunia, harta, dan jabatan — hingga hanya Allah yang tersisa di dalam hatinya. Dan mutiara itu tidak didapat dengan mengandalkan ilmu semata, melainkan karunia dan pertolongan Allah bagi hamba yang dikehendaki-Nya.
Video pengajian Ilmu Tasawuf ini menjelaskan kedudukan dari Syariat, Thoriqoh, Hakikat, dan Makrifat. Pengajian ini disampaikan dalam aktivitas Bimbingan Teknis Bulan Ramadhan pada Tahun 2025.
Kegiatan Bimbingan Teknis ini dilaksanakan setiap awal bulan Ramadhan di setiap tahunnya, dengan tujuan memberikan Pemahaman Dasar Tauhid bagi para pemula — sebagai bekal awal untuk melangkah di jalan Allah — dan diselenggarakan tanpa dipungut biaya apapun.
Koleksi Bimtek Ramadhan memberikan Materi Dasar Ilmu Tasawuf agar mudah untuk mengkaji Ilmu Tauhid Hakikat MakrifatVideo Bimtek Ramadhan
Puncak Makrifat adalah persaksian pertemuan dengan Allah disebut Makrifatullah — sebagaimana yang dijanjikanNya bagi semua manusia yang mengharapkannya, dalam Al-Quran Surah Al-'Ankabut(29:5):
Sedangkan kalimat Tauhid Makrifatullah yang disebutkan dalam Al-Quran adalah: