📖 Detail Artikel 🕋 Ilmu Tauhid

Pertemuan dengan Allah SWT

Makrifat menurut Perspektif Syariat dan Hakikat
🗓️ Terbit Selasa, 16 Juni 2026 ✨ Diperbarui Jumat, 14 Agustus 2026

☷ Daftar Isi ⌄

Bismillahirrahmanirrahim

Sholawat Ibrahimiyah

Pendahuluan

Dalam hasanah pemikiran Islam, frasa pertemuan dengan Allah ( liqa' Allah - لِقَاۤءَ اللّٰهِ ) sering menjadi pokok perdebatan yang tidak pernah berakhir dan tidak pernah ada titik temu. Secara syariat literal memahaminya sebagai kematian jasmani atau kejadian di akhirat kelak. Secara hakikat (tasawuf) memahaminya sebagai pengalaman ruhani yang bisa terjadi di dunia sebelum kematian jasmani.

Artikel ini mencoba mengkaji dan mengabarkan apa yang telah dijelaskan dalam Al-Quran dan yang diteladankan oleh Rosulullah, agar jurang pemisah tidak menjadi tidak dan bahkan bisa menjadi saling berhimpitan sebagai satu kesatuan proses menuju pertemuan dengan Allah SWT.

Sebagaimana Firman Allah dalam Al-'Ankabut(29:5):

مَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ اللّٰهِ فَاِنَّ اَجَلَ اللّٰهِ لَاٰتٍ ۗوَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ٥
5. Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Allah, sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang. Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Ayat ini mengandung kata mengharap ( yarju ). Dalam bahasa Arab, kata yarju memiliki akar makna yang dalam: bukan sekadar menginginkan, tetapi "mengharap dengan penuh keyakinan disertai usaha dan rasa takut yang melahirkan optimisme". Mengharap adalah paduan antara raghbah (رَغْبَة -- Keinginan kuat, harapan, kecenderungan hati) dan rahbah (رَهْبَة -- Rasa takut kepada Allah yang melahirkan ketaatan).

۞
Perspektif Syariat

Definisi Liqa' Allah Menurut Syariat

Perspektif syariat tentang Pertemuan dengan Allah selalu berorientasi pada hukum lahir (Dhohir). Liqa' Allah dipahami secara harfiah sebagai pertemuan yang akan terjadi setelah kematian jasmani, tepatnya di hari kiamat yaitu di surga. Sehingga di dunia harus beribadah dengan menjauhi perintah dan laranganNya sesuai Hukum Dhohir. Sedangkan pengertian Kiamat yang dibagi dua yaitu Kiamat Kecil (kematian jasad) dan Kiamat Besar merupakan hancurnya seluruh Alam beserta isinya.

Hal ini didasarkan pada kehati-hatian agar tidak terjadi kesyirikan atau pengkufuran dengan mengklaim adanya pertemuan sebelum kematian dhohir tiba waktunya.

Ciri-ciri Pandangan Syariat

Memandang pertemuan dengan Allah sebagai kejadian di akhirat. Oleh karena itu dapat dicirikan sebagai berikut:
No Aspek Penjelasan
1 Waktu Akhirat (setelah mati)
2 Tempat Di surga atau padang mahsyar
3 Cara Penglihatan fisik dengan mata kepala
4 Sifat Vertikal (Allah di atas, hamba di bawah)
5 Apakah semua mengalaminya? Ya, tetapi orang kafir tidak mendapat kemuliaan melihat wajah Allah
1
Aspek
Waktu
Penjelasan
Akhirat (setelah mati)
2
Aspek
Tempat
Penjelasan
Di surga atau padang mahsyar
3
Aspek
Cara
Penjelasan
Penglihatan fisik dengan mata kepala
4
Aspek
Sifat
Penjelasan
Vertikal (Allah di atas, hamba di bawah)
5
Aspek
Apakah semua mengalaminya?
Penjelasan
Ya, tetapi orang kafir tidak mendapat kemuliaan melihat wajah Allah

Argumentasi Syariat

Para ulama syariat berpegang pada beberapa dalil:

  1. Tidak ada satu pun ayat atau hadis sahih yang secara eksplisit menyatakan bahwa manusia bisa "bertemu" Allah di dunia dalam keadaan sadar.

  2. Nabi Musa AS pun, ketika meminta melihat Allah, jawabannya adalah: "Kamu tidak akan sanggup melihat-Ku" (QS. Al-A'raf: 143).

  3. Dunia adalah alam hijab (tabir). Manusia tidak bisa menembus hijab itu sebelum mati.

Sebagaimana Firman Allah dalam Al-A'raf(7:143):

وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ ١٤٣
143. Ketika Musa datang untuk (bermunajat) pada waktu yang telah Kami tentukan (selama empat puluh hari) dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, dia berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Dia berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka, ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) pada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Maha Suci Engkau. Aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.”

۞
Perspektif Hakikat (Tasawuf)

Definisi Liqa' Allah Menurut Hakikat

Dalam perspektif tasawuf, liqa' Allah tidak hanya ditunda sampai akhirat. Para sufi membedakan antara "kematian jasmani" (maut) dan "pertemuan ruhani" (liqa' Allah). Pertemuan ruhani bisa terjadi di dunia ketika hati seorang hamba sudah bersih dari hijab nafsu dan dunia, lalu ia "menyaksikan" Tuhannya dengan mata hati (musyahadah).

Ciri-ciri Pandangan Hakikat

Pertemuan dengan Allah bisa terjadi di dunia bagi hati yang suci. Allah yang memilih untuk menjadi kekasihNya.
No Aspek Penjelasan
1 Waktu Bisa di dunia (sebelum mati) atau di akhirat
2 Tempat Di mana saja, karena Allah dekat
3 Cara Musyahadah (penyaksian dengan hati), bukan fisik
4 Sifat Kedekatan ruhani (horisontal/transendental)
5 Apakah semua mengalaminya? Tidak. Hanya hamba yang berharap dan yang dipilih Allah
1
Aspek
Waktu
Penjelasan
Bisa di dunia (sebelum mati) atau di akhirat
2
Aspek
Tempat
Penjelasan
Di mana saja, karena Allah dekat
3
Aspek
Cara
Penjelasan
Musyahadah (penyaksian dengan hati), bukan fisik
4
Aspek
Sifat
Penjelasan
Kedekatan ruhani (horisontal/transendental)
5
Aspek
Apakah semua mengalaminya?
Penjelasan
Tidak. Hanya hamba yang berharap dan yang dipilih Allah

Argumentasi Hakikat

Para sufi mendasarkan pandangan mereka pada:

  1. Sabda Nabi SAW tentang ihsan: "Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya" (HR. Bukhari & Muslim). Ini menunjukkan bahwa "melihat" dengan hati bisa terjadi di dunia.

  2. Pengalaman para wali dan sahabat seperti Sayyidina Abu Bakar RA yang mengatakan: "Tidaklah aku melihat sesuatu melainkan aku melihat Allah sebelumnya, sesudahnya, dan bersamanya."

  3. Firman Allah: "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya" (QS. Qaf: 16). Jika Allah sudah sedekat itu, mengapa pertemuan harus ditunda sampai mati?

Sebagaimana Firman Allah dalam Qaf(50:16):

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖوَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ ١٦
16. Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh dirinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.

Pertemuan Sebelum Mati: Bukti dari Al-Qur'an

Nabi Musa AS masih dalam keadaan hidup jasmani ketika diajak bicara oleh Allah di Bukit Thursina.

Sebagaimana Firman Allah dalam Taha(20:11-14):

فَلَمَّآ اَتٰىهَا نُوْدِيَ يٰمُوْسٰٓى ۙ ١١
11. Ketika mendatanginya (tempat api), dia (Musa) dipanggil, “Wahai Musa.
اِنِّيْٓ اَنَا۠ رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَۚ اِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى ۗ ١٢
12. Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu. Lepaskanlah kedua terompahmu karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, yaitu Tuwa.
وَاَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوْحٰى ١٣
13. Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).
اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ ١٤
14. Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan tegakkanlah salat untuk mengingat-Ku.

Ini membuktikan bahwa "pertemuan" dengan Allah (dalam pengertian kalam dan kedekatan ruhani) tidak memerlukan kematian jasmani terlebih dahulu.

۞
Perbedaan Mendasar: Kematian vs Pertemuan

Perbedaan Kematian Jasmani dan Pertemuan Ruhani
Keduanya sering disamakan, tetapi memiliki perbedaan fundamental
No Aspek Kematian Jasmani (Maut) Pertemuan Ruhani (Liqa' Allah)
1 Waktu Akhir hayat, tidak bisa dimajukan Bisa kapan saja, di dunia sebelum mati
2 Subjek Jasad mati, ruh berpisah dari raga Ruh yang masih dalam jasad, sadar
3 Apakah semua mengalaminya? Ya, semua yang bernyawa Tidak. Hamba yang berharap dan dibukakan Allah
4 Perlu "diharap"? Tidak, karena pasti terjadi Ya. Itulah yang diperintahkan dalam QS. 29:5
5 Kualitas Netral (semua mengalami) Mulia (bagi hamba yang dicintai Allah)
1
Aspek
Waktu
Kematian Jasmani (Maut)
Akhir hayat, tidak bisa dimajukan
Pertemuan Ruhani (Liqa' Allah)
Bisa kapan saja, di dunia sebelum mati
2
Aspek
Subjek
Kematian Jasmani (Maut)
Jasad mati, ruh berpisah dari raga
Pertemuan Ruhani (Liqa' Allah)
Ruh yang masih dalam jasad, sadar
3
Aspek
Apakah semua mengalaminya?
Kematian Jasmani (Maut)
Ya, semua yang bernyawa
Pertemuan Ruhani (Liqa' Allah)
Tidak. Hamba yang berharap dan dibukakan Allah
4
Aspek
Perlu "diharap"?
Kematian Jasmani (Maut)
Tidak, karena pasti terjadi
Pertemuan Ruhani (Liqa' Allah)
Ya. Itulah yang diperintahkan dalam QS. 29:5
5
Aspek
Kualitas
Kematian Jasmani (Maut)
Netral (semua mengalami)
Pertemuan Ruhani (Liqa' Allah)
Mulia (bagi hamba yang dicintai Allah)

۞
Mengapa Syariat dan Hakikat Berbeda?

Perbedaan ini bukanlah perbedaan dalil namun lebih berbeda dalam penafsiran yang disebabkan posisi perjalanan Ruhani berbeda. Selain itu juga disebabkan perbedaan cara mata memandang antara mata dhohir dan mata hati.

Bukan Pertentangan, Tapi Level Perjalanan

Perbedaan ini bukan berarti salah satu pihak salah. Ini adalah perbedaan level perjalanan (maqam) dalam beragama.

Perbandingan Level Perjalanan
Syariat adalah awal, hakikat adalah kelanjutan. Tidak boleh saling mengingkari.
No Aspek Syariat Hakikat (Tasawuf)
1 Level perjalanan Awal (bidayah) Kedalaman / kelanjutan (nihaayah/dirayah)
2 Fokus utama Hukum lahir (halal-haram, sah-batal) Penyucian hati dan ma'rifatullah
3 Metode Dalil Al-Qur'an dan Hadis Riyadhah, dzikir, mujahadah, tazkiyah
4 Pembahasan Apa yang dilakukan dan ditinggalkan Apa yang dirasakan dan disaksikan hati
5 Sikap pada liqa' Allah di dunia Tidak membahas (menunda ke akhirat) Membahas dan mengalaminya sebagai anugerah
1
Aspek
Level perjalanan
Syariat
Awal (bidayah)
Hakikat (Tasawuf)
Kedalaman / kelanjutan (nihaayah/dirayah)
2
Aspek
Fokus utama
Syariat
Hukum lahir (halal-haram, sah-batal)
Hakikat (Tasawuf)
Penyucian hati dan ma'rifatullah
3
Aspek
Metode
Syariat
Dalil Al-Qur'an dan Hadis
Hakikat (Tasawuf)
Riyadhah, dzikir, mujahadah, tazkiyah
4
Aspek
Pembahasan
Syariat
Apa yang dilakukan dan ditinggalkan
Hakikat (Tasawuf)
Apa yang dirasakan dan disaksikan hati
5
Aspek
Sikap pada liqa' Allah di dunia
Syariat
Tidak membahas (menunda ke akhirat)
Hakikat (Tasawuf)
Membahas dan mengalaminya sebagai anugerah

Pepatah Sufi

Dalam Ilmu Tasawwuf agar memiliki adab ruhani terhadap Allah SWT selalu diungkapkan dengan pepatah-pepatah sufi, diantaranya:

Gus Mukhlason Rosyid
☪️
“
Syariat adalah kapal, hakikat adalah lautan. Kapal dibuat untuk berlayar di lautan, bukan untuk tinggal di darat. Tapi tanpa kapal, engkau akan tenggelam.
— Gus Mukhlason Rosyid

Penjelasan Pepatah Sufi
Sebuah proses perjalanan menuju Makrifatullah
No Elemen Perumpamaan Makna
1 Kapal (syariat) Aturan, hukum, ibadah lahiriah yang menjaga keselamatan
2 Lautan (hakikat) Kedalaman spiritual, pengalaman batin, ma'rifatullah
3 Berkeliling tanpa arah Orang yang hanya sibuk dengan syariat tapi tidak pernah "menyelam" ke hakikat – ia aman tapi tidak mendapatkan mutiara
4 Menyelam ke dasar lautan Usaha sungguh-sungguh (mujahadah) untuk menembus hijab, membersihkan hati, dan mencapai ma'rifat
5 Mutiara Pertemuan dengan Allah (liqa' Allah), musyahadah, dan pengalaman ruhani yang menjadi buah dari perjalanan spiritual
1
Elemen Perumpamaan
Kapal (syariat)
Makna
Aturan, hukum, ibadah lahiriah yang menjaga keselamatan
2
Elemen Perumpamaan
Lautan (hakikat)
Makna
Kedalaman spiritual, pengalaman batin, ma'rifatullah
3
Elemen Perumpamaan
Berkeliling tanpa arah
Makna
Orang yang hanya sibuk dengan syariat tapi tidak pernah "menyelam" ke hakikat – ia aman tapi tidak mendapatkan mutiara
4
Elemen Perumpamaan
Menyelam ke dasar lautan
Makna
Usaha sungguh-sungguh (mujahadah) untuk menembus hijab, membersihkan hati, dan mencapai ma'rifat
5
Elemen Perumpamaan
Mutiara
Makna
Pertemuan dengan Allah (liqa' Allah), musyahadah, dan pengalaman ruhani yang menjadi buah dari perjalanan spiritual

Perumpamaan ini dapat disimpukan:

  • Tanpa kapal (syariat): Tenggelam (tersesat, keluar dari Islam, atau terjebak dalam klaim-klaim palsu tanpa dasar hukum).

  • Kapal tanpa berlayar (syariat tanpa thariqat/hakikat): Diam di darat, aman tetapi tidak pernah sampai ke lautan (ilmu hanya teori, ibadah hanya gerakan tanpa ruh).

  • Berlayar tetapi hanya berkeliling (syariat + amal tanpa tujuan pertemuan): Tidak produktif, hanya sibuk dengan ritual tanpa kerinduan untuk "bertemu".

  • Menyelam ke dasar (hakikat yang benar): Mendapat mutiara – yaitu liqa' Allah, baik di dunia (musyahadah) maupun di akhirat (ru'yah).

Maka: - Orang syariat tidak salah karena belum membahas hakikat. Ia masih di awal perjalanan. - Orang hakikat tidak boleh meninggalkan syariat. Kapalnya harus tetap utuh.

Yang bodoh adalah orang yang menganggap sesat apa yang tidak ia capai, dan menganggap perjalanannya sudah final padahal lautan masih terbentang luas.

۞
Kesimpulan

Ringkasan Akhir

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal:

  1. Liqa' Allah bukan sekadar kematian jasmani. Jika hanya itu, QS. 29:5 yang memerintahkan "mengharap" menjadi tidak bermakna karena semua pasti mati.

  2. Pertemuan ruhani bisa terjadi di dunia. Dalilnya: kisah Nabi Musa AS, hadits tentang ihsan, dan pengalaman para wali.

  3. Perbedaan syariat dan hakikat adalah perbedaan level, bukan pertentangan. Syariat awal perjalanan, hakikat kelanjutannya.

  4. Prasyarat liqa' Allah: harapan yang benar (raja'), prasangka baik (husnuzhan) kepada Allah, dan pengenalan diri.

  5. Makrifat adalah puncak perjalanan spiritual yang diajarkan Rasulullah SAW kepada para sahabat yang istiqamah. Namun ironisnya, sebagian kalangan syariat menolak bahkan menuduh sesat ajaran ini, karena mereka tidak pernah merasakannya dan menganggap segala sesuatu di luar fiqih adalah kesesatan.

Padahal Rasulullah sendiri yang mengajarkan ihsan: "Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."

إِنَّ الْإِحْسَانَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Itulah pintu makrifat.

Jangan jadikan perbedaan antara syariat dan hakikat sebagai pertentangan. Biarlah Allah yang menyelesaikannya. Karena pada akhirnya, syariat adalah kapal, hakikat adalah lautan, dan keduanya sama-sama jalan menuju Allah.

Yang terpenting bukan siapa yang menang berdebat, tetapi apakah kita semua benar-benar menuju kepada Allah. Maka berhentilah saling menyesatkan, dan serahkan penilaian akhir kepada-Nya.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar(39:46) :

قُلِ اللّٰهُمَّ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ عٰلِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ اَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيْ مَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ٤٦
46. Katakanlah, “Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, yang mengetahui segala yang gaib dan nyata, Engkaulah yang memutuskan di antara hamba-hamba-Mu apa yang selalu mereka perselisihkan.”

Penutup

Maka, wahai saudaraku yang merindukan pertemuan dengan Allah:

  • Jangan batasi rahmat Allah hanya karena engkau belum merasakannya.

  • Jangan tunggu mati untuk "bertemu", karena bisa jadi mati datang sementara hatimu masih tertutup hijab.

  • Mulailah dari syariat, lalu berlayarlah ke hakikat. Atau ikuti kehendak Allah yang Maha Memberi Petunjuk. Untuk menuju Pertemuan itu Allah punya cara tersendiri membangunkan HambaNya.

  • Jika sudah Makrifat jangan tinggalkan Syariat, karena jasad masih memerlukan Kapat untuk mengarungi Samudera Kehidupan Dunia,

  • Berharaplah, karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

۞
Dalil Hukum

  • QS. Al-'Ankabut (29): 5-6
  • QS. Al-A'raf (7): 143
  • QS. Qaf (50): 16
  • QS. Thaha (20): 11-14
  • HR. Bukhari & Muslim (Hadits Jibril tentang Ihsan)
  • HR. Bukhari & Muslim (Hadits Qudsi: Aku sesuai prasangka hamba-Ku)

Video Pengajian
Pengajian Ilmu Tasawwuf yang berkaitan dengan Makrifatullah

Video thumbnail
▶

Pentingnya Cahaya Makrifat

Cahaya Makrifat sebagai penuntun menuju kepada Pertemuan kepada Allah SWT semasa hidup Didunia. Allah SWT yang memberikan Cahaya Makrifat kepada Hamba yang Mengharap dan Dilipih olehNya.