Daftar Isi ⌄
- 1Pendahuluan
- 2Perspektif Syariat
- 2.1Definisi Liqa' Allah Menurut Syariat
- 2.2Ciri-ciri Pandangan Syariat
- 2.3Argumentasi Syariat
- 3Perspektif Hakikat (Tasawuf)
- 3.1Definisi Liqa' Allah Menurut Hakikat
- 3.2Ciri-ciri Pandangan Hakikat
- 3.3Argumentasi Hakikat
- 3.4Pertemuan Sebelum Mati: Bukti dari Al-Qur'an
- 4Perbedaan Mendasar: Kematian vs Pertemuan
- 5Mengapa Syariat dan Hakikat Berbeda?
- 5.1Bukan Pertentangan, Tapi Level Perjalanan
- 5.2Pepatah Sufi
- 6Kesimpulan
- 6.1Penutup
- 7Dalil Hukum
- 8Video Pengajian
Daftar Isi
- 1Pendahuluan
- 2Perspektif Syariat
- 2.1Definisi Liqa' Allah Menurut Syariat
- 2.2Ciri-ciri Pandangan Syariat
- 2.3Argumentasi Syariat
- 3Perspektif Hakikat (Tasawuf)
- 3.1Definisi Liqa' Allah Menurut Hakikat
- 3.2Ciri-ciri Pandangan Hakikat
- 3.3Argumentasi Hakikat
- 3.4Pertemuan Sebelum Mati: Bukti dari Al-Qur'an
- 4Perbedaan Mendasar: Kematian vs Pertemuan
- 5Mengapa Syariat dan Hakikat Berbeda?
- 5.1Bukan Pertentangan, Tapi Level Perjalanan
- 5.2Pepatah Sufi
- 6Kesimpulan
- 6.1Penutup
- 7Dalil Hukum
- 8Video Pengajian
Dalam hasanah pemikiran Islam, frasa pertemuan dengan Allah ( liqa' Allah - لِقَاۤءَ اللّٰهِ ) sering menjadi pokok perdebatan yang tidak pernah berakhir dan tidak pernah ada titik temu. Secara syariat literal memahaminya sebagai kematian jasmani atau kejadian di akhirat kelak. Secara hakikat (tasawuf) memahaminya sebagai pengalaman ruhani yang bisa terjadi di dunia sebelum kematian jasmani.
Artikel ini mencoba mengkaji dan mengabarkan apa yang telah dijelaskan dalam Al-Quran dan yang diteladankan oleh Rosulullah, agar jurang pemisah tidak menjadi tidak dan bahkan bisa menjadi saling berhimpitan sebagai satu kesatuan proses menuju pertemuan dengan Allah SWT.
Sebagaimana Firman Allah dalam Al-'Ankabut(29:5):
Ayat ini mengandung kata mengharap ( yarju ). Dalam bahasa Arab, kata yarju memiliki akar makna yang dalam: bukan sekadar menginginkan, tetapi "mengharap dengan penuh keyakinan disertai usaha dan rasa takut yang melahirkan optimisme". Mengharap adalah paduan antara raghbah (رَغْبَة -- Keinginan kuat, harapan, kecenderungan hati) dan rahbah (رَهْبَة -- Rasa takut kepada Allah yang melahirkan ketaatan).
Perspektif syariat tentang Pertemuan dengan Allah selalu berorientasi pada hukum lahir (Dhohir). Liqa' Allah dipahami secara harfiah sebagai pertemuan yang akan terjadi setelah kematian jasmani, tepatnya di hari kiamat yaitu di surga. Sehingga di dunia harus beribadah dengan menjauhi perintah dan laranganNya sesuai Hukum Dhohir. Sedangkan pengertian Kiamat yang dibagi dua yaitu Kiamat Kecil (kematian jasad) dan Kiamat Besar merupakan hancurnya seluruh Alam beserta isinya.
Hal ini didasarkan pada kehati-hatian agar tidak terjadi kesyirikan atau pengkufuran dengan mengklaim adanya pertemuan sebelum kematian dhohir tiba waktunya.
No
Aspek
Penjelasan
1
Waktu
Akhirat (setelah mati)
2
Tempat
Di surga atau padang mahsyar
3
Cara
Penglihatan fisik dengan mata kepala
4
Sifat
Vertikal (Allah di atas, hamba di bawah)
5
Apakah semua mengalaminya?
Ya, tetapi orang kafir tidak mendapat kemuliaan melihat wajah Allah
Para ulama syariat berpegang pada beberapa dalil:
-
Tidak ada satu pun ayat atau hadis sahih yang secara eksplisit menyatakan bahwa manusia bisa "bertemu" Allah di dunia dalam keadaan sadar.
-
Nabi Musa AS pun, ketika meminta melihat Allah, jawabannya adalah: "Kamu tidak akan sanggup melihat-Ku" (QS. Al-A'raf: 143).
-
Dunia adalah alam hijab (tabir). Manusia tidak bisa menembus hijab itu sebelum mati.
Sebagaimana Firman Allah dalam Al-A'raf(7:143):
Dalam perspektif tasawuf, liqa' Allah tidak hanya ditunda sampai akhirat. Para sufi membedakan antara "kematian jasmani" (maut) dan "pertemuan ruhani" (liqa' Allah). Pertemuan ruhani bisa terjadi di dunia ketika hati seorang hamba sudah bersih dari hijab nafsu dan dunia, lalu ia "menyaksikan" Tuhannya dengan mata hati (musyahadah).
No
Aspek
Penjelasan
1
Waktu
Bisa di dunia (sebelum mati) atau di akhirat
2
Tempat
Di mana saja, karena Allah dekat
3
Cara
Musyahadah (penyaksian dengan hati), bukan fisik
4
Sifat
Kedekatan ruhani (horisontal/transendental)
5
Apakah semua mengalaminya?
Tidak. Hanya hamba yang berharap dan yang dipilih Allah
Para sufi mendasarkan pandangan mereka pada:
-
Sabda Nabi SAW tentang ihsan: "Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya" (HR. Bukhari & Muslim). Ini menunjukkan bahwa "melihat" dengan hati bisa terjadi di dunia.
-
Pengalaman para wali dan sahabat seperti Sayyidina Abu Bakar RA yang mengatakan: "Tidaklah aku melihat sesuatu melainkan aku melihat Allah sebelumnya, sesudahnya, dan bersamanya."
-
Firman Allah: "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya" (QS. Qaf: 16). Jika Allah sudah sedekat itu, mengapa pertemuan harus ditunda sampai mati?
Sebagaimana Firman Allah dalam Qaf(50:16):
Nabi Musa AS masih dalam keadaan hidup jasmani ketika diajak bicara oleh Allah di Bukit Thursina.
Sebagaimana Firman Allah dalam Taha(20:11-14):
Ini membuktikan bahwa "pertemuan" dengan Allah (dalam pengertian kalam dan kedekatan ruhani) tidak memerlukan kematian jasmani terlebih dahulu.
No
Aspek
Kematian Jasmani (Maut)
Pertemuan Ruhani (Liqa' Allah)
1
Waktu
Akhir hayat, tidak bisa dimajukan
Bisa kapan saja, di dunia sebelum mati
2
Subjek
Jasad mati, ruh berpisah dari raga
Ruh yang masih dalam jasad, sadar
3
Apakah semua mengalaminya?
Ya, semua yang bernyawa
Tidak. Hamba yang berharap dan dibukakan Allah
4
Perlu "diharap"?
Tidak, karena pasti terjadi
Ya. Itulah yang diperintahkan dalam QS. 29:5
5
Kualitas
Netral (semua mengalami)
Mulia (bagi hamba yang dicintai Allah)
Perbedaan ini bukanlah perbedaan dalil namun lebih berbeda dalam penafsiran yang disebabkan posisi perjalanan Ruhani berbeda. Selain itu juga disebabkan perbedaan cara mata memandang antara mata dhohir dan mata hati.
Perbedaan ini bukan berarti salah satu pihak salah. Ini adalah perbedaan level perjalanan (maqam) dalam beragama.
No
Aspek
Syariat
Hakikat (Tasawuf)
1
Level perjalanan
Awal (bidayah)
Kedalaman / kelanjutan (nihaayah/dirayah)
2
Fokus utama
Hukum lahir (halal-haram, sah-batal)
Penyucian hati dan ma'rifatullah
3
Metode
Dalil Al-Qur'an dan Hadis
Riyadhah, dzikir, mujahadah, tazkiyah
4
Pembahasan
Apa yang dilakukan dan ditinggalkan
Apa yang dirasakan dan disaksikan hati
5
Sikap pada liqa' Allah di dunia
Tidak membahas (menunda ke akhirat)
Membahas dan mengalaminya sebagai anugerah
Dalam Ilmu Tasawwuf agar memiliki adab ruhani terhadap Allah SWT selalu diungkapkan dengan pepatah-pepatah sufi, diantaranya:
No
Elemen Perumpamaan
Makna
1
Kapal (syariat)
Aturan, hukum, ibadah lahiriah yang menjaga keselamatan
2
Lautan (hakikat)
Kedalaman spiritual, pengalaman batin, ma'rifatullah
3
Berkeliling tanpa arah
Orang yang hanya sibuk dengan syariat tapi tidak pernah "menyelam" ke hakikat – ia aman tapi tidak mendapatkan mutiara
4
Menyelam ke dasar lautan
Usaha sungguh-sungguh (mujahadah) untuk menembus hijab, membersihkan hati, dan mencapai ma'rifat
5
Mutiara
Pertemuan dengan Allah (liqa' Allah), musyahadah, dan pengalaman ruhani yang menjadi buah dari perjalanan spiritual
Perumpamaan ini dapat disimpukan:
-
Tanpa kapal (syariat): Tenggelam (tersesat, keluar dari Islam, atau terjebak dalam klaim-klaim palsu tanpa dasar hukum).
-
Kapal tanpa berlayar (syariat tanpa thariqat/hakikat): Diam di darat, aman tetapi tidak pernah sampai ke lautan (ilmu hanya teori, ibadah hanya gerakan tanpa ruh).
-
Berlayar tetapi hanya berkeliling (syariat + amal tanpa tujuan pertemuan): Tidak produktif, hanya sibuk dengan ritual tanpa kerinduan untuk "bertemu".
-
Menyelam ke dasar (hakikat yang benar): Mendapat mutiara – yaitu liqa' Allah, baik di dunia (musyahadah) maupun di akhirat (ru'yah).
Maka: - Orang syariat tidak salah karena belum membahas hakikat. Ia masih di awal perjalanan. - Orang hakikat tidak boleh meninggalkan syariat. Kapalnya harus tetap utuh.
Yang bodoh adalah orang yang menganggap sesat apa yang tidak ia capai, dan menganggap perjalanannya sudah final padahal lautan masih terbentang luas.
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal:
-
Liqa' Allah bukan sekadar kematian jasmani. Jika hanya itu, QS. 29:5 yang memerintahkan "mengharap" menjadi tidak bermakna karena semua pasti mati.
-
Pertemuan ruhani bisa terjadi di dunia. Dalilnya: kisah Nabi Musa AS, hadits tentang ihsan, dan pengalaman para wali.
-
Perbedaan syariat dan hakikat adalah perbedaan level, bukan pertentangan. Syariat awal perjalanan, hakikat kelanjutannya.
-
Prasyarat liqa' Allah: harapan yang benar (raja'), prasangka baik (husnuzhan) kepada Allah, dan pengenalan diri.
-
Makrifat adalah puncak perjalanan spiritual yang diajarkan Rasulullah SAW kepada para sahabat yang istiqamah. Namun ironisnya, sebagian kalangan syariat menolak bahkan menuduh sesat ajaran ini, karena mereka tidak pernah merasakannya dan menganggap segala sesuatu di luar fiqih adalah kesesatan.
Padahal Rasulullah sendiri yang mengajarkan ihsan: "Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."
Itulah pintu makrifat.
Jangan jadikan perbedaan antara syariat dan hakikat sebagai pertentangan. Biarlah Allah yang menyelesaikannya. Karena pada akhirnya, syariat adalah kapal, hakikat adalah lautan, dan keduanya sama-sama jalan menuju Allah.
Yang terpenting bukan siapa yang menang berdebat, tetapi apakah kita semua benar-benar menuju kepada Allah. Maka berhentilah saling menyesatkan, dan serahkan penilaian akhir kepada-Nya.
Sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar(39:46) :
Maka, wahai saudaraku yang merindukan pertemuan dengan Allah:
-
Jangan batasi rahmat Allah hanya karena engkau belum merasakannya.
-
Jangan tunggu mati untuk "bertemu", karena bisa jadi mati datang sementara hatimu masih tertutup hijab.
-
Mulailah dari syariat, lalu berlayarlah ke hakikat. Atau ikuti kehendak Allah yang Maha Memberi Petunjuk. Untuk menuju Pertemuan itu Allah punya cara tersendiri membangunkan HambaNya.
-
Jika sudah Makrifat jangan tinggalkan Syariat, karena jasad masih memerlukan Kapat untuk mengarungi Samudera Kehidupan Dunia,
-
Berharaplah, karena Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya.
- QS. Al-'Ankabut (29): 5-6
- QS. Al-A'raf (7): 143
- QS. Qaf (50): 16
- QS. Thaha (20): 11-14
- HR. Bukhari & Muslim (Hadits Jibril tentang Ihsan)
- HR. Bukhari & Muslim (Hadits Qudsi: Aku sesuai prasangka hamba-Ku)
Pentingnya Cahaya Makrifat
Cahaya Makrifat sebagai penuntun menuju kepada Pertemuan kepada Allah SWT semasa hidup Didunia. Allah SWT yang memberikan Cahaya Makrifat kepada Hamba yang Mengharap dan Dilipih olehNya.